Monday, December 14, 2015

Tugas Pengganti Duta Autis di SMP Katolik Kristoforus II dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia Melalui Sosial Media (2)


Kelas                : LA03
Dosen              : Zulfahmi, S.H., MA.Hum
Kode Dosen     : D5685
Waktu               :Rabu 9 Desember 2015
Pukul                : 16.00 WIB
Kehadiran Anggota
·         Melakukan Tugas Pengganti:
Ketua:
-       Dionisius Andrian Hadipurnawan - 1801441556
Anggota
-       Metta Handika - 1801381430
-       Aurelia Friska Widjaja - 1801400846
-       Fernando Prayogo – 1801391122

·         Tidak Melakukan Tugas Pengganti:

-       Tidak Ada


Pengantar

            Sesuai dengan intruksi yang diberikan oleh dosen Character Building: Agama kami di kelas dan juga PIC Teach For Indonesia untuk Duta Autis, kelompok kami melakukan pendaftaran kelompok dan juga memilih sekolah yang akan kami datang untuk sosialisasi. Kelompok kami diaccept untuk melakukan sosialisasi di SMP Katolik Kristoforus II dan juga Narada Junior High School. Segera kami pun melakukan permohonan izin dengan mendatangi kedua sekolah tersebut, Kendal muncul ketika kami mendatang SMP Katolik Kristoforus II karena ternyata persis sebelum kami datang sudah ada kelompok duta autis yang sudah datang dan meminta izin untuk melakukan sosialisasi, sehingga untuk SMP Katolik Kristoforus II pun tidak bisa menerima kami untuk melakukan sosialisasi. Ditambah dengan terbatasnya waktu dimana kegiatan sosialisasi tidak boleh dilakukan saat Ujian Tengah Semester Ganjil 2015/2016 berlangsung, kelompok kami pun mendapatkan Tugas Pengganti. Adapun deskripsi tugas pengganti kami adalah, melakukan sosialisasi autisme di social media, 2x sosialisasi di social media memiliki bobot 1x sosialisasi di sekolah. Karena kelompok kami kurang 2x sosialisasi di sekolah, sehingga setiap anggota kelompok kami harus melakukan 4x sosialisasi di social media. Materi yang disosialisasikan pun harus berbeda, karena kelompok kami berjumah 4 orang maka akan ada 8 materi berbeda yang akan terbagi dalam 2x sosialisasi.
Dasar Teori

Seperti yang kita ketahui pula, Agama memiliki artia sebagai wadah bagi para penganut suatu Agama untuk mengekspresikan atau mengungkapkan imannya. Agama dan Iman pun harus berjalan seiring karena kedua hal tersebut meruapakan hala yang berkesinambungan dan tak bisa terpisahkan. Salah satu cara seorang penganut agama untuk mengungkapkan imannya adalah mencintai sesama manusia yang merupakan perintah Tuhan kepada umatnya.

            Setiap penganut agama yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu mencintai umatNya dan menyertai umatNya di mana saja mereka berada. Entah apapun keadaan kita, kaya atau miskin, senang atau sedih Tuhan selalu hadir dan setia menyertai kita umatNya. Sebagai umat beragama kita diharuskan untuk saling mencintai sesama  selayaknya Tuhan mencintai umatnya. Hal ini merupakan kewajiban secara religius bagi kita seorang penganut Agama. Sehingga mencintai sesama bukanlah merupakan suatu pilihan atau pun tambahan saja, melainkan unsur yang mendasar atau substansial dalam relasi kita dengan sesama manusia.

            Dapat dipastikan bahwa setiap agama di dunia ini mengajarkan cinta kasih, dan mewajibkan kita umatnya untuk mencintai sesama. Seperti yang tertulis dalam Alkitab Kristiani (1 Korintus 13:1-13)  Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa   manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan, dan sekalipun aku memiliki iman  yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Lalu ada juga dalam agama Islam muncul dari sosok Nabi Muhammad SAW yang sering diperlakukan dengan tidak baik pada zamannya tapi Ia selalu memaafkannya. Memaafkan seperti ini menandakan kematangan Muhammad dalam mencintai sesama.

Adapun dalam agama Budha diakui pentingnya mencintai sesama, Nikaya Pali memuat satu kata cinta yang berbeda dari kata cinta lainnyayakni cinta kasih yang dipancarkan secara universal secara tak terbatas kepada semua mahkluk yaitu Metta. Metta sendiri berarti persaudaraan, persahabatan, pengorbanan yang mendorong kemauan baik dan memnadang mahkluk lain sama seperti dirinya sendiri. Di dalam agama Hindu pun cinta kasih merupakan suatu ajaran, adapun yang mendasari cinta kasih adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu. Maknanya dikembangkan lagi: engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan ”Tat Twam Asi” yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1. Di dalam Konghucu, cinta atau disebut dengan Ren merupakan ajaran yang pokok. Ren sendiri memiliki arti Cinta Kasih Universal dan tidak terbatas kepada siapa saja. Ren dalam agama Khonghucu didasari pada sikap ketulusan, berbakti, memberi, bukan meminta ataupun menuntut balas.

            Di dalam ajaran-ajaran agama sudah dinyatakan bahwa kita semua dipersatukan dalam cinta kasih satu sama lain tanpa memandang etnis, agama yang dianut, status, keaadaan, dan sebgaianya(universal), karena kita semua sama di mata Tuhan. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan kekayaaan keanekaragaman kita sebagai manusia yang sudah ada sejak dahulu, dan sudah selayaknya kekayaan tersebut kita jaga dan bukan kita jadikan sebagai ancaman, malah seharusnya kita syukuri dengan segenap hati.

Hasil Sosialisasi di Social Media

            Untuk sosialisasi di social media yang kedua, kelompok kami memutuskan untuk mensosialisasikan Autisme sedikit lebih detil, materi-materi yang kami sosialisasikan di Tugas Pengganti 2 ini adalah sebagai berikut Perbedaan Autisme, Down Syndrome dan Idiot, Penanganan Pengidap Autisme, Orang Sukses pengidap Autisme, Sejarah Autisme

Nama: Metta Handika
Materi: Perbedaan Autisme, Down Syndrome dan Idiot
Social Media: Instagram & Path





  Postingan Metta mengenai Perbedaan Autisme, Down Syndrome dan Idiot di Instagram



Postingan Metta mengenai Perbedaan Autisme, Down Syndrome dan Idiot di Path

                 Pada postingan untuk Tugas Pengganti 2 ini, Metta menjelaskan mengenai perbedaan dari Autisme, Down Syndrome dan juga Idiot. Hal yang melatarbelakangi kami memilih materi ini adalah banyak orang yang masih belum bisa membedakan pengidap Autisme dengan pengidapDown Syndrome dan juga pengidap Idiot. Agar membantu sesorang tahu yang mana pengidap Autisme. Adapaun ciri-ciri dari Autisme sudah dijabarkan oleh Dionisius pada Tugas Pengganti 1, kini Metta akan menjelaskan secara keseluruah perbedaan dari ketiganya. 


Nama: Aurelia Friska Widjaja
Materi: Penanganan Pengidap Autisme
Social Media: Facebook & Instagram
       
Postingan Aurelia mengenai Penanganan Autisme di Facebook


                 

           


          
Postingan Aurelia mengenai Penanganan Autisme di Instagram

          Pada Tugas Pengganti 2 ini kelompok kami mensosialisasikan materi yang sedikit lebih detil, salah satunya adalan Penanganan Autisme, yang di post oleh Aurelia. Seperti yang kita ketahui Autisme merupakan kelaianan perkembangan sistem saraf dan merupakan bawaan sejakia lahir, sehingga proses penyembuhannya pun bukan dengan meminum obat dari hasil resep dokter, melainakn dengan terapi. Seorang pengidap Autisme akan membaik jka diberikan penanganan yang baik, yaitu dengan terapi khusus, seorang pengidap Autisme dapat dikatakan sembuh jika ia bisa hidup mandiri.


Nama: Fernando Prayogo
Materi: Orang Sukses pengidap Autisme
Social Media: Line & Facebook


Postingan Fernando mengenai Orang Sukses pengidap Autisme di Facebook


Postingan Fernando mengenai Orang Sukses pengidap Autisme di Line

                     Pada Tugas Pengganti 2 ini anggota kelompok kami Fernando mengepost materi Orang Sukses pengidap Autisme, mungkin menurut kita agak susah bagi seorang pengidap Autisme bisa sukses di dalam bdang tertentu. Padahal tidak ada perbedaan kemungkinan untuk mencapai sukses antara ita yang tidak mengidap Autisme dengan pengidap Autisme, semua orang, siapapun di dunia ini punya kesempatan yang sama untuk mencapai sebuah kesuksesan. Salah satunya adalah Wolfgang Amadeus Mozart, seorang komposer musik klasik, karya-karyanya (sekitar 700 lagu) termasuk gubahan-gubahan yang secara luas diakui sebagai puncak karya musik simfoni, musik kamar, musik piano, musik opera, dan musik paduan suara. Contoh karyanya adalah opera "Don Giovanni" dan "Die Zauberflöte". Banyak dari karya Mozart dianggap sebagai repertoar standar konser klasik dan diakui sebagai mahakarya musik zaman klasik.


Nama: Dionisius Andrian Hadipurnawan
Materi: Ciri – Ciri Pengidap Autisme
Social Media: Path & Facebook





Postingan Dionisius mengenai Sejarah Autisme di Facebook


Postingan Dionisius mengenai Sejarah Autisme di Path


          Pada tugas pengganti 2 ini , anggota kelompok kami Dionisius mengepost mengenai Sejarah Autisme. Pasti banyak dari kita yang sudah pernah bertemu atau memiliki teman yang mengidap Autisme, tapi apakah kalian tahu bahwa sudah sejak kapan keberadaan orang-orang yang mengidap Autisme disadari oleh masyarakat ? Sesuai fakta yang ada, Autis sudah disadari sejak tahun tahun 1908, bahkan Autisme pernah disebut-sebut sebaga gejala gangguan jiwa sekitar tahun 1940an.

Monday, December 7, 2015

Tugas Pengganti Duta Autis di SMP Katolik Kristoforus II dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia Melalui Sosial Media (1)

Kelas                : LA03
Dosen              : Zulfahmi, S.H., MA.Hum
Kode Dosen     : D5685
Waktu               : Senin 7 Desember 2015
Pukul                : 16.00 WIB
Kehadiran Anggota
·         Melakukan Tugas Pengganti:
Ketua:
-       Dionisius Andrian Hadipurnawan - 1801441556
Anggota
-       Metta Handika - 1801381430
-       Aurelia Friska Widjaja - 1801400846
-       Fernando Prayogo – 1801391122

·         Tidak Melakukan Tugas Pengganti:

-       Tidak Ada


Pengantar

            Sesuai dengan intruksi yang diberikan oleh dosen Character Building: Agama kami di kelas dan juga PIC Teach For Indonesia untuk Duta Autis, kelompok kami melakukan pendaftaran kelompok dan juga memilih sekolah yang akan kami datang untuk sosialisasi. Kelompok kami diaccept untuk melakukan sosialisasi di SMP Katolik Kristoforus II dan juga Narada Junior High School. Segera kami pun melakukan permohonan izin dengan mendatangi kedua sekolah tersebut, Kendal muncul ketika kami mendatang SMP Katolik Kristoforus II karena ternyata persis sebelum kami datang sudah ada kelompok duta autis yang sudah datang dan meminta izin untuk melakukan sosialisasi, sehingga untuk SMP Katolik Kristoforus II pun tidak bisa menerima kami untuk melakukan sosialisasi. Ditambah dengan terbatasnya waktu dimana kegiatan sosialisasi tidak boleh dilakukan saat Ujian Tengah Semester Ganjil 2015/2016 berlangsung, kelompok kami pun mendapatkan Tugas Pengganti. Adapun deskripsi tugas pengganti kami adalah, melakukan sosialisasi autisme di social media, 2x sosialisasi di social media memiliki bobot 1x sosialisasi di sekolah. Karena kelompok kami kurang 2x sosialisasi di sekolah, sehingga setiap anggota kelompok kami harus melakukan 4x sosialisasi di social media. Materi yang disosialisasikan pun harus berbeda, karena kelompok kami berjumah 4 orang maka akan ada 8 materi berbeda yang akan terbagi dalam 2x sosialisasi.


ISI

Dasar Teori

Seperti yang kita ketahui pula, Agama memiliki artia sebagai wadah bagi para penganut suatu Agama untuk mengekspresikan atau mengungkapkan imannya. Agama dan Iman pun harus berjalan seiring karena kedua hal tersebut meruapakan hala yang berkesinambungan dan tak bisa terpisahkan. Salah satu cara seorang penganut agama untuk mengungkapkan imannya adalah mencintai sesama manusia yang merupakan perintah Tuhan kepada umatnya.
            Setiap penganut agama yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu mencintai umatNya dan menyertai umatNya di mana saja mereka berada. Entah apapun keadaan kita, kaya atau miskin, senang atau sedih Tuhan selalu hadir dan setia menyertai kita umatNya. Sebagai umat beragama kita diharuskan untuk saling mencintai sesama  selayaknya Tuhan mencintai umatnya. Hal ini merupakan kewajiban secara religius bagi kita seorang penganut Agama. Sehingga mencintai sesama bukanlah merupakan suatu pilihan atau pun tambahan saja, melainkan unsur yang mendasar atau substansial dalam relasi kita dengan sesama manusia.
            Dapat dipastikan bahwa setiap agama di dunia ini mengajarkan cinta kasih, dan mewajibkan kita umatnya untuk mencintai sesama. Seperti yang tertulis dalam Alkitab Kristiani (1 Korintus 13:1-13)  Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa   manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan, dan sekalipun aku memiliki iman  yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Lalu ada juga dalam agama Islam muncul dari sosok Nabi Muhammad SAW yang sering diperlakukan dengan tidak baik pada zamannya tapi Ia selalu memaafkannya. Memaafkan seperti ini menandakan kematangan Muhammad dalam mencintai sesama.
Adapun dalam agama Budha diakui pentingnya mencintai sesama, Nikaya Pali memuat satu kata cinta yang berbeda dari kata cinta lainnyayakni cinta kasih yang dipancarkan secara universal secara tak terbatas kepada semua mahkluk yaitu Metta. Metta sendiri berarti persaudaraan, persahabatan, pengorbanan yang mendorong kemauan baik dan memnadang mahkluk lain sama seperti dirinya sendiri. Di dalam agama Hindu pun cinta kasih merupakan suatu ajaran, adapun yang mendasari cinta kasih adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu. Maknanya dikembangkan lagi: engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan ”Tat Twam Asi” yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1. Di dalam Konghucu, cinta atau disebut dengan Ren merupakan ajaran yang pokok. Ren sendiri memiliki arti Cinta Kasih Universal dan tidak terbatas kepada siapa saja. Ren dalam agama Khonghucu didasari pada sikap ketulusan, berbakti, memberi, bukan meminta ataupun menuntut balas.
            Di dalam ajaran-ajaran agama sudah dinyatakan bahwa kita semua dipersatukan dalam cinta kasih satu sama lain tanpa memandang etnis, agama yang dianut, status, keaadaan, dan sebgaianya(universal), karena kita semua sama di mata Tuhan. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan kekayaaan keanekaragaman kita sebagai manusia yang sudah ada sejak dahulu, dan sudah selayaknya kekayaan tersebut kita jaga dan bukan kita jadikan sebagai ancaman, malah seharusnya kita syukuri dengan segenap hati.


Hasil Sosialisasi di Social Media

Nama: Metta Handika
Materi: Apa Itu Autisme ?

Social Media: Line & Path



Postingan Metta mengenai Apa itu Autisme di Path
Postingan Metta mengenai Apa itu Autisme di Line
Pada postingan Tugas Pengganti 1, Metta menjelaskan mengenai Apa itu Autisme, ia membuatnya secara jelas dan singkat agar mudah dibaca orang melalui Social Media. Penentuan materi menagapa pada Tugas Penggati 1 ini kami memasukan materi Apa itu Autisme ? dikarenakan masih banyak orang-orang di luar sana yang belum mengerti benar Autisme, fakta tersebut kami dapatkan dari hasil survey kami melalui kuesioner ketika melakukan sosialisasi di Narada Junior High School dimana rasio yang tahu apa itu Autimes dengan baik lebih kecil daripada yang tidak tahu sebelum kami melakukan presentasi, hal inilah yang menjadi acuan kami untuk memasukan materi ini ke dalam tugas pengganti kami. Adapun Autisme sendiri adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang kebanyakan dakibatkan oleh faktor hereditas dan kadang telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6 bulan. Dengan memosting materi ini di social media, kelompok kami berharap orang-orang di luar sana yang belum mengerti Autisme dengan baik bisa lebih mengenal dan tahu akan apa itu Autisme. 


Nama: Aurelia Friska Widjaja
Materi: Jumlah Penderita Autis di Indonesia
Social Media: Facebook & Instagram

Postingan Aurelia mengenai Jumlah Pengidap Autisme di Indonesia di Instagram

Postingan Aurelia mengenai Jumlah Pengidap Autisme di Indonesia di Facebook
Pada postingan ini Aurelia memosting mengenai jumlah pengidap Autisme yang ada di Indonesia. Alasan kami memlih materi in adalah fakta n masih belum banyak diketahu oleh orang-orang. Mungkin banyak dari kita yang pernah atau bertemu atau memiliki teman yang mengdap Autisme, tapi apakah kita semua tahu bahwa pengidap Autisme di Indonesia ada berapa orang ? Adapun pengidap Autisme di Indonesia kini berjumlah 12.800 orang. Walaupun fakta ini bukan merupakan fakta yang besar, tapi fakta ini bisa menjadi pengetahuan bag kita semua bahwa 12.800 dari penduduk indonesia yang kini berjumlah sekitar 250 juta orang.

Nama: Fernando Prayogo
Materi: Penyebab-penyebab Autis
Social Media: Line & Facebook

Postingan Fernando mengenai Penyebab-penyebab Autisme di Line

Postingan Fernando mengenai Penyebab-penyebab Autisme di Facebook
           Pada postingan Fernando di Tugas Penggati 1 ini, ia memosting penyebab-penyebab dar Autisme. Alasan kami memlih materi ini untuk di sosialisasikan melalui social media adalah, banyak orang yang menganggap bahwa Autisme adalah sebuah kelainan atau sebuah penyakit, hal ini membuat banyak bertanya apa yang menjadi penyebab seseorang mengidap Autisme ? apakah Autisme menular ?. mungkin perihal menular atau tidak sudah banyak dari kita yang tahu bahwa Autisme tidak akan pernah menular. Tapi apa yang menjadi penyebab seseorang diidentifikasi sebagai pengidap Autisme apakah sudah banyak orang yang tahu ? Adapun penyebab-penyebab Autisme adalah Genetik, Pestisida, Konsumsi Obat-obatan seorang Ibu Hamil saat mengandung, Usia Orang Tua saat mengandung seorang anak yang terlalu tua, dan Kelainan   Perkembangan Otak. 

Nama: Dionisius Andrian Hadipurnawan
Materi: Ciri – Ciri Pengidap Autisme
Social Media: Path & Facebook


Postingan Dionisius mengenai Ciri-ciri Autisme di Facebook



Postingan Dionisius mengenai ciri-ciri Autisme di Path

        Pada postingan Dionisius, ia menjabarkan cri-ciri dari seseorang yang mengidap Autisme. Hal yang melatarbelakangi kami memlih materi ini adalah banyak orang yang masih belum tahu ciri-ciri pengidap Autis yang benar dan belum bisa membedakan pengidap Autisme dengan pengidap Down Syndrome dan juga pengidap Idiot. Agar membantu sesorang tahu yang mana pengidap Autisme , maka Dionisius menjabarkan ciri-ciri Autisme dengan penjalaan singkat agar membantu seseorang membacanya melalui social media. Adapun juga alasan lain adalah agar orang-orang bisa lebih sadar degan pengidap Autisme di sekitarnya, sehingga tidak perlu merasa takut atau menjauhinya. 







Wednesday, December 2, 2015

Duta Pedulis Autis di kelas 8 & 9 Narada Junior High School dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building Agama bersama Teach For Indonesia

Kelas               : LA03
Dosen              : Zulfahmi, S.H., MA.Hum
Kode Dosen     : D5685
Waktu               : Kamis 5 November 2015
Pukul                : 15.00 – 16.00 WIB
PIC                   : Eka Wangsawidjaja (Kepala Sekolah Narada Junior High School)
Lokasi               : Narada School
Jumlah Peserta : 74

Kehadiran Anggota:

·         Hadir:
Ketua:
-       Dionisius Andrian Hadipurnawan - 1801441556
Anggota
-       Metta Handika - 1801381430
-       Aurelia Friska Widjaja - 1801400846
-       Fernando Prayogo – 1801391122

·         Tidak Hadir:

-       Tidak Ada



ISI


Dasar Teori


Seperti yang kita ketahui pula, Agama memiliki artia sebagai wadah bagi para penganut suatu Agama untuk mengekspresikan atau mengungkapkan imannya. Agama dan Iman pun harus berjalan seiring karena kedua hal tersebut meruapakan hala yang berkesinambungan dan tak bisa terpisahkan. Salah satu cara seorang penganut agama untuk mengungkapkan imannya adalah mencintai sesama manusia yang merupakan perintah Tuhan kepada umatnya. 

Setiap penganut agama yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu mencintai umatNya dan menyertai umatNya di mana saja mereka berada. Entah apapun keadaan kita, kaya atau miskin, senang atau sedih Tuhan selalu hadir dan setia menyertai kita umatNya. Sebagai umat beragama kita diharuskan untuk saling mencintai sesama  selayaknya Tuhan mencintai umatnya. Hal ini merupakan kewajiban secara religius bagi kita seorang penganut Agama. Sehingga mencintai sesama bukanlah merupakan suatu pilihan atau pun tambahan saja, melainkan unsur yang mendasar atau substansial dalam relasi kita dengan sesama manusia.

Dapat dipastikan bahwa setiap agama di dunia ini mengajarkan cinta kasih, dan mewajibkan kita umatnya untuk mencintai sesama. Seperti yang tertulis dalam Alkitab Kristiani (1 Korintus 13:1-13)  Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa   manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan, dan sekalipun aku memiliki iman  yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Lalu ada juga dalam agama Islam muncul dari sosok Nabi Muhammad SAW yang sering diperlakukan dengan tidak baik pada zamannya tapi Ia selalu memaafkannya. Memaafkan seperti ini menandakan kematangan Muhammad dalam mencintai sesama. 

         Adapun dalam agama Budha diakui pentingnya mencintai sesama, Nikaya Pali memuat satu kata cinta yang berbeda dari kata cinta lainnyayakni cinta kasih yang dipancarkan secara universal secara tak terbatas kepada semua mahkluk yaitu Metta. Metta sendiri berarti persaudaraan, persahabatan, pengorbanan yang mendorong kemauan baik dan memnadang mahkluk lain sama seperti dirinya sendiri. Di dalam agama Hindu pun cinta kasih merupakan suatu ajaran, adapun yang mendasari cinta kasih adalah ajaran yang menyatakan bahwa aku adalah kamu. Maknanya dikembangkan lagi: engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya. Inilah yang sering disebut dengan ”Tat Twam Asi” yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1. Di dalam Konghucu, cinta atau disebut dengan Ren merupakan ajaran yang pokok. Ren sendiri memiliki arti Cinta Kasih Universal dan tidak terbatas kepada siapa saja. Ren dalam agama Khonghucu didasari pada sikap ketulusan, berbakti, memberi, bukan meminta ataupun menuntut balas. 

Di dalam ajaran-ajaran agama sudah dinyatakan bahwa kita semua dipersatukan dalam cinta kasih satu sama lain tanpa memandang etnis, agama yang dianut, status, keaadaan, dan sebgaianya(universal), karena kita semua sama di mata Tuhan. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan kekayaaan keanekaragaman kita sebagai manusia yang sudah ada sejak dahulu, dan sudah selayaknya kekayaan tersebut kita jaga dan bukan kita jadikan sebagai ancaman, malah seharusnya kita syukuri dengan segenap hati. 

Persiapan 

Persiapan untuk melakukan sosialisasi tentunya sudah dimulai sejak awal semester 3 (Ganjil 2015/2016) ini dimulai dengan pembagian kelompok sosialisasi dan pemilhan sekolah-sekolah yang akan didatangi. Sekolah yang kelompok kami pilih saah satunya adalah Narada Junior High School yang berletak di Perumahan Kosambi Baru, Cengkareng, Jakarta Barat. Kelompok kami mendatang sekolah tersebut sekitar 2 sebelum presentasi. Adapun sebelum mendatangi Narada School, kami menghubungi pihak sekolah melalui telepon untuk memberitahukan maksud dan tujuan kami. Kelompok kami pun akhirnya bertemu dengan kepala sekolah Narada Junior High School, Ibu Eka Wangsawidjaja. Kami pun berunding mengenai pemlihan tanggal yang pas untuk kelompok kami melakukan sosialisasi, dan terpilihlah tanggal 5 dan 12 November. Untuk yang tanggal 12 november ini kami dijawalkan untuk memberikan sosialisasi kepada murid-murid dari kelas 8 dan 9 yang berjumlah 74 orang. Untuk tempat pihak sekolah memberikan tempat di aula sekolah tersebut, dan kami melakukannya pukul 15.00 – 16.00 WIB.

Metode Sosialisasi

Metode sosialisasi yang kami gunakan adalah metode classroom, yaitu metode dengan cara tatap muka dalam suatu ruangan. Materi sosialisasi yang kami berikan mencangkup Apa itu Autisme, Infografik Pengidap Autisme di dunia, Penyebab – penyebab Gejala Autisme, Ciri-ciri Autisme dan Kampanye Autism is Not a Joke. Penyampaian materi diberikan melalui slide-slide Power Point dan video mengenai Autisme. 

Hal Positif 
Video mengenai Autisme mampu memberikan pendekatan kepada para murid mengenai Autisme. Adapun video yang kami berikan berisikan penjelasan mengenai Autisme secara general.
Para murid sangat antusias dan cukup banyak yang bertanya mengenai Autisme

Hal Negatif
Beberapa anak merasa bosan saat salah satu materi disampaikan terlalu lama
Sosialisasi agak terlambat dimulai karena ada kendala dengan proyektor, sehingga membuat peserta sedikit menunggu


Pengukuran Kinerja

Survey Eksternal
Kami memberikan kueisioner berisikan 6 pertanyaan dengan hasil sebagai berikut
1. Apa Autis menurut Anda ?
Dari 74 murid,  hanya 23 orang yang mengerti arti Autisme dengan baik sedangkan sisanya menjawab Autisme adalah orang yang suka sibuk sendiri, Autisme sebagai sebuah penyakit, sisanya menjawab tidak tahu pasti apa itu Autisme.

2. Apa ciri-ciri Autis yang Anda ketahui ?
Dari 74 murid, rata-rata menjawab ciri-ciri Autisme adalah suak sibuk sendiri, sisanya menjawab ciri-ciri Autisme adalah berbeda dengan yang lain atau suka sibuk sendiri.

3. Hal apa yang akan anda lakukan jika bertemu dengan pengidap Autisme ?
Dari 74 murid, rata-rata menjawab mau menjadikan sebagai teman, menyapa atau mengajak bermain

4. Pernahkah Anda menggunakan kata “autis” sebaga bahan lelucon ?
□ Ya □ Tidak
Dari 74 murid, semuanya menjawab  Ya

5. (Diisi setelah presentasi) Apakah setelah mendengarkan presentasi sosialisasi tentang autis ini Anda semakin mengerti tentang autis dan tidak akan menggunakan kata “autis” untuk lelucon ?
□ Ya □ Mungkin □ Tidak
Dari 74 murid, semuanya menjawab Ya

6. (Diisi setelah presentasi) Apa kritik dan saran Anda terhadap kegiatan ini ?

- Kegiatan ini memperkenalakn Autisme dengan baik
- Kegiatan ini mampu menambah pengetahuan mengenai Autisme
- Kegiatan ini sangat bermanfaat 

Survey Internal
Menurut saya sebagai ketua kelompok, semua anggota memberikan kontribusi, sehingga memudahkan saya sebagai ketua untuk melakuka koordinasi, bahkan tidak jarang kami saling bertukar pikiran atau ide dalam menjalankan poyek ini. Benar-benar tidak ada hambatan jika dilihat dari segi internal kami. Hambatan yang berarti mungkin hanya kendala teknis yaitu proyektor untuk presentasi yang sempap tidak berfungsi saat di awal.

Berikut kami lampirkan Form Evaluasi kegiatan Sosialisasi kami pada tanggal 12 November 2015

Dokumentasi

Berikut merupakan foto-foto kelompok saat melakukan Sosialisasi di Narada Junior High School 


Foto bersama dengan peserta Sosialisasi

Foto bersama dengan peserta Sosialisasi
Aurelia

Fernando

Metta

Dionisius